Langsung ke konten utama

Artificial Intelligence : Perkembangan dan Pengaruhnya

Kecerdasan Buatan atau kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau Intelegensi Artifisial (bahasa Inggris: Artificial Intelligence atau hanya disingkat AI) didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. [1]



Artificial Intelligence mungkin terdengar seperti hal dalam science-fiction, identik dengan sebuah mesin yang menyerupai manusia (humanoid) yang dapat melakukan semua tugas secara otomatis. Namun sebenarnya, AI tidak sebatas humanoid dan tanpa kita sadari, kita telah menggunakan AI dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Artificial Intelligence (AI) atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan istilah kecerdasan buatan merupakan sebuah konsep yang memang sudah lama berkembang di bidang science-fiction. Konsep AI pada mulanya dipopulerkan oleh film-film Hollywood dan para penulis ikonik seperti Isaac Asimov. [2]

Sejarah singkat AI dapat dipaparkan sebagai berikut.

Kata ‘intelligence’ berasal dari bahasa Latin ‘intelligo’ yang memiliki arti ‘saya paham’, sehingga apa yang menjadi dasar dari ‘intelligence’ adalah kemampuan untuk memahami sesuatu dan menentukan apa hal selanjutnya yang harus dilakukan. Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah dimulai pada abad ke-13, saat ditemukannya robot humanoid yang dapat memainkan musik oleh Al-Jazari dan robot penuang teh dari Jepang pada tahun 1796. Pada masa ini, kecerdasan buatan difokuskan untuk membuat sesuatu yang bisa melakukan hal yang sama dengan manusia, termasuk kecerdasan dan perilakunya.

Sumbangan terbesar di bidang kecerdasan buatan dimulai oleh Alan Turing, dengan paper yang berjudul “Computing Machinery and Intelligence” yang ditulis pada tahun 1950. Alan Turing mencoba menjawab pertanyaan “Dapatkah mesin berpikir?” yang detailnya dijelaskan dan dimisalkan dengan  permainan yang disebut dengan ‘Imitation Game’. ‘Imitation Game’ dimainkan oleh tiga orang, seorang laki-laki (A), seorang perempuan (B), dan seorang interrogator atau pemeriksa dengan jenis kelamin diantara keduanya (C). Interrogator berada di ruangan yang berbeda dengan laki-laki dan perempuan tersebut, namun interrogator harus mencari tahu siapa yang laki-laki dan siapa yang perempuan di antara keduanya. Misalnya, kedua orang tersebut diberi nama X dan Y, dan pada akhirnya interrogator harus memutuskan apakah ‘X adalah A (laki-laki) dan Y adalah B (perempuan)’ atau sebaliknya. Interrogator memberikan pertanyaan kepada X tentang kondisi fisik X yang mengarah pada jawaban mengenai jenis kelaminnya, seperti model rambut. Disini, X adalah orang yang menyebabkan interrogator memilih jawaban yang salah, dan Y memberikan jawaban yang jujur. Namun, hal ini tentu saja masih ‘membingungkan’ interrogator untuk mendefinisikan siapa diantara keduanya yang merupakan laki-laki atau perempuan. Dari hal ini, Turning menjelaskan bahwa, suatu mesin  dapat dikatakan cerdas apabila dapat berperilaku dan berpikir seperti manusia. (Turing, 1950) [3]

Istilah Artificial Intelligence baru dipopulerkan pada tahun 1958 oleh John McCarthy pada tahun 1956 pada konferensi pertama pada bidang tersebut yang bernama “The Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence”.  Pada tahun 1960 hingga 1970, banyak diskusi yang bermunculan tentang bagaimana komputer dapat meniru kemampuan dari otak manusia dengan detail, dan pada tahun 1980 penelitian tentang AI telah banyak dilakukan di berbagai universitas. [4]


AI yang sudah dikembangkan dan dapat dinikmati manfaatnya pada hari ini masih tergolong narrow AI (atau weak AI), di  mana AI saat ini masih terbatas kemampuannya untuk melakukan suatu tugas tertentu saja. Akan tetapi, banyak riset yang bertujuan untuk ke depannya menciptakan general AI (AGI atau strong AI) yang memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai tugas seperti manusia. [5]

AI pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menganalisa kumpulan berbagai macam data untuk menyelesaikan masalah dan menarik kesimpulan. Dalam pengembangannya, AI memiliki kemampuan untuk terus berkembang berdasarkan data-data yang diterimanya. Semakin banyak dan semakin beragam data yang dimiliki sebuah program AI, akan semakin baik pula respons yang dapat diberikannya.

Dengan adanya AI, tugas dan pekerjaan manusia dapat menjadi ringan. Beberapa contoh kemudahan yang diberikan dan yang paling populer adalah penggunaan search engine dan navigasi. Virtual Personal Assistant, seperti SIRI maupun Google Now yang menggunakan speech recognition untuk menganalisis suara dan menjalankan perintah yang diucapkan merupakan salah contoh AI. Kata-kata yang kita ucapkan akan diproses oleh program, kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan data-data yang telah ada untuk menghasilkan respon yang tepat. AI juga memiliki peran penting di bidang keamanan, seperti penggunaan face recognition untuk mempermudah penanganan kasus oleh kepolisian. Contoh lain adalah penggunaan AI dalam game. Hampir semua game memiliki AI dalam programnya yang dapat menganalisa tindakan pemain untuk menghasilkan berbagai macam respon yang membuat game menjadi lebih menarik.

Semakin dibutuhkannya kemudahan, teknologi AI pun semakin marak dikembangkan. Jika dibandingkan dengan zaman dulu, di mana potensi AI belum terlalu diperhatikan, zaman sekarang kita dapat melihat banyaknya pekerjaan manusia yang sepenuhnya sudah digantikan oleh mesin berteknologi AI. Contohnya di industri berskala besar, sebagian besar pekerjaan sudah diambil alih mesin dan bukan manusia. Bahkan di kehidupan sehari-hari pun, penggunaan mesin-mesin berteknologi AI sudah biasa digunakan, seperti fitur-fitur smartphone yang semakin beragam, seperti lock screen dengan deteksi wajah dan sidik jari.

Di bidang klimatologi dan geofisika, peran AI dapat dilihat dari adanya perkiraan cuaca yang membandingkan data-data cuaca dari hari-hari sebelumnya sehingga menghasilkan perkiraan yang akurat. Selain itu, AI juga berperan dalam prediksi bencana alam, seperti badai, angin topan, gempa bumi, dan gunung meletus.

Kemudahan AI tidak hanya sampai di sini karena masih banyak riset yang terus mengembangkan teknologi AI untuk menciptakan kemudahan-kemudahan baru.

Manfaat teknologi AI dapat dirasakan dengan mudah di zaman modern ini. Akan tetapi, di samping memberikan dampak positif, AI juga dapat menimbulkan dampak negatif. Salah satunya dapat dilihat dari berkurangnya lapangan pekerjaan bagi manusia karena telah digantikan oleh AI. Hal ini terlihat sangat jelas di pabrik-pabrik besar di mana sebagian besar pekerjaannya diselesaikan oleh mesin berteknologi AI. Selain itu, kemudahan yang diberikan oleh AI menyebabkan manusia menjadi malas dan menimbulkan ketergantungan. Hubungan antar manusia semakin renggang karena manusia lebih mengandalkan mesin bahkan untuk hal-hal sederhana seperti berbagi cerita.

Mungkin sekarang ini dampak negatif yang ditimbulkan oleh Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan belum begitu terasa merugikan. Namun, dalam jangka panjang, ada kemungkinan bahwa kecerdasan teknologi AI dapat melebihi kecerdasan manusia dan manusia "diperbudak" oleh mesin.

Meskipun perkembangan teknologi AI memiliki dampak negatif, tidak bisa dipungkiri bahwa kemudahan yang diberikan AI memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Perkembangan AI tidak harus dihentikan, tetapi harus dikembangkan dan dimanfaatkan secara bijak.








REFERENSI :

[1] Wikipedia. 5 Oktober 2017. https://id.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan
[2] Gahnberg, Carl. Will Artificial Intelligence Change The World For the Better? Or Worse? Read our new policy paper. Internet Society, 2017. Web. 5 Oktober 2017. https://www.internetsociety.org/blog/2017/04/will-artificial-intelligence-change-the-world-for-the-better-or-worse-read-our-new-policy-paper/?gclid=Cj0KCQjwjdLOBRCkARIsAFj5-GASuu3hgZqzHHzdqdBpXZzUqw2ERtjfAmqgXk-FL_N-LSYGdpYl6DkaAp93EALw_wcB
[3] Turing, A.M. Computing Machinery and Intelligence. 1950
[4] Budiharto, Widodo. Kecerdasan Buatan, Kini dan Akan Datang. Binus University, 2012. Web. 4 Oktober 2017. http://socs.binus.ac.id/2012/06/06/mengenal-kecerdasan-buatan-kini-dan-akan-datang/
[5] Future of Life. Web. 5 Oktober 2017. https://futureoflife.org/background/benefits-risks-of-artificial-intelligence/



Penulis :
0011 - Alifiannisa A.Wighneswara
0017 - Shintya Rezky Rahmayanti
0107 - Shella Agustio Nainggolan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membuat Program Sederhana Menggunakan Scratch

Scratch  adalah bahasa pemrograman yang didesain untuk memperkenalkan konsep pemrograman komputer secara sederhana sehingga dapat dipahami oleh siapapun dari berbagai latar belakang. Scratch menampilkan antar muka yang sangat sederhana dan mudah digunakan. Konsep pemrograman scratch divisualisasikan dalam bentuk blok-blok program seperti memasang sebuah puzzle. Scratch dapat digunakan untuk membuat aplikasi, animasi atau games. Dengan scratch, konsep pemrograman dapat dipahami dengan mudah dan sangat baik untuk menyalurkan kreatifitas anak dalam belajar sekaligus bermain (edutainment). Berikut ini 2 buah program yang saya coba buat menggunakan Scratch: 1. Menggambar Rumah Link:  Menggambar Rumah 2. Game: Catch the Snow! Link:  Game: Catch the Snow!